Fastconnect.id – Inflasi global 2026 kembali naik akibat konflik Timur Tengah karena perang dan gangguan pasokan di kawasan itu langsung mendorong harga minyak, gas, asuransi pengiriman, biaya logistik, dan ekspektasi inflasi di banyak negara. Dalam pembaruan World Economic Outlook April 2026, IMF menyebut inflasi global diperkirakan naik lagi pada 2026 sebelum kembali turun pada 2027, dengan tekanan paling besar terkonsentrasi di negara berkembang. Reuters juga melaporkan IMF memangkas proyeksi pertumbuhan global 2026 menjadi 3,1%, sambil memperingatkan bahwa perang yang lebih luas dapat mendorong minyak ke level lebih tinggi, memperparah inflasi, dan bahkan membuka risiko resesi global.
Yang membuat situasi 2026 terasa berbeda adalah skala gangguan energinya. Reuters melaporkan pejabat Saudi mengatakan dibutuhkan waktu bagi negara produsen untuk menaikkan output lagi setelah gangguan akibat konflik, sementara jalur pelayaran penting seperti Selat Hormuz sempat terganggu dan baru mulai dibuka kembali dalam suasana gencatan senjata yang masih rapuh. Goldman Sachs juga mengingatkan bahwa sekitar 20% pasokan minyak dan LNG global melewati Hormuz. Ketika jalur ini terguncang, pasar energi global segera menaikkan harga untuk memasukkan premi risiko.
Kenapa Konflik Timur Tengah Bisa Mengangkat Inflasi Global?
Alasannya sederhana: energi adalah biaya dasar hampir semua sektor ekonomi. Saat harga minyak dan gas naik, biaya transportasi, listrik, produksi industri, distribusi pangan, penerbangan, petrokimia, dan logistik ikut terdorong. IMF dalam blog terbarunya menegaskan bahwa perang di Timur Tengah menciptakan shock eksternal yang harus dihadapi dengan disiplin fiskal karena dampaknya cepat menyebar ke harga dan pertumbuhan. Jadi, inflasi kali ini bukan muncul karena konsumsi yang terlalu panas, melainkan karena biaya input global melonjak.
Reuters juga menulis bahwa lonjakan harga minyak dan gas sejak awal konflik langsung mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Eropa. Pelaku pasar yang sebelumnya melihat peluang pelonggaran suku bunga mulai justru memperhitungkan jalur suku bunga yang lebih tinggi karena energi kembali menekan inflasi. Ini menunjukkan konflik Timur Tengah tidak hanya menaikkan harga barang fisik, tetapi juga mengubah cara pasar menilai arah inflasi ke depan.
Harga Energi Jadi Saluran Penularan Utama
Saluran pertama dan paling kuat tentu datang dari harga minyak. Reuters melaporkan IMF melihat risiko pertumbuhan global bisa turun ke sekitar 2% dalam skenario perang memburuk, dengan inflasi ikut naik. The New York Fed melalui John Williams juga mengatakan perang sudah mendorong tekanan inflasi. Sementara Presiden Fed St. Louis Alberto Musalem mengatakan oil shock berpotensi menjaga inflasi inti AS mendekati 3% dan membuat suku bunga tetap tinggi lebih lama. Artinya, di negara maju pun konflik Timur Tengah sudah diterjemahkan sebagai ancaman inflasi nyata, bukan sekadar risiko hipotetis.
Masalahnya, harga energi yang lebih tinggi tidak selalu berhenti di pompa bensin atau tagihan utilitas. Kenaikan itu sering berubah menjadi second-round effects: ongkos distribusi naik, perusahaan menyesuaikan harga jual, lalu rumah tangga dan pekerja mulai mengubah ekspektasi inflasi mereka. Reuters mencatat ECB sedang menimbang apakah lonjakan harga energi akan cukup kuat untuk menahan proses disinflasi di Eropa. Bahkan ketika beberapa pejabat ECB masih menilai harga energi belum keluar dari skenario dasar, pasar tetap melihat jalur inflasi 2026 jadi lebih sulit diturunkan.
Rantai Logistik dan Pengiriman Ikut Kena Imbas
Inflasi 2026 tidak naik hanya karena minyak mentah mahal. Konflik Timur Tengah juga mengganggu pengiriman laut, biaya asuransi, dan kepercayaan pelaku logistik. Reuters melaporkan bahwa walau Hormuz dibuka kembali, perusahaan asuransi masih enggan menanggung pengiriman tanpa penghentian konflik yang lebih meyakinkan. Ini penting, karena ketika kapal lebih mahal diasuransikan atau harus memutar rute, biaya itu cepat muncul di harga barang impor, bahan baku, dan komoditas.
Dampaknya sudah terlihat pada ekonomi yang sangat terhubung dengan jalur regional. Reuters menulis Moody’s mengubah outlook Bahrain menjadi negatif karena konflik mengganggu pelayaran melalui Hormuz, ekspor minyak, ekspor aluminium, dan pariwisata. Walau Bahrain hanya satu contoh, logikanya relevan secara global: ketika jalur energi dan perdagangan regional terguncang, tekanan harga tidak berhenti di negara konflik, tetapi menyebar ke pasar internasional.
Kenapa Inflasi Naik Lagi Padahal Sebelumnya Sudah Melandai?
Karena inflasi global 2026 sebelumnya memang sedang menuju perlambatan, tetapi belum sepenuhnya aman dari shock penawaran. IMF dalam WEO April 2026 menyebut inflasi global akan sedikit naik lagi pada 2026 sebelum kembali turun pada 2027. Artinya, dasar disinflasi masih ada, tetapi konflik Timur Tengah datang sebagai gangguan baru yang membalikkan sebagian kemajuan itu. Ini menjelaskan kenapa headline inflasi dapat kembali memburuk meski banyak bank sentral sebelumnya sudah cukup dekat dengan sasaran mereka.
Reuters memberi contoh nyata dari kawasan euro: inflasi Maret naik menjadi 2,5% dari 1,9% sebulan sebelumnya karena harga energi terdorong perang. Ini membuat para pembuat kebijakan harus menimbang ulang seberapa cepat mereka bisa melonggarkan kebijakan. Jadi, jawaban mengapa inflasi global 2026 kembali naik adalah karena jalur disinflasi sebelumnya terganggu oleh shock energi baru.
Dampaknya ke Suku Bunga dan Pertumbuhan Global
Ketika inflasi energi naik, bank sentral masuk ke situasi yang sulit. Jika mereka mengabaikan kenaikan itu, ekspektasi inflasi bisa terlepas. Jika mereka terlalu agresif menaikkan suku bunga, pertumbuhan bisa melemah lebih dalam. Reuters melaporkan IMF memperkirakan ECB mungkin perlu menaikkan suku bunga sekitar 50 basis poin sepanjang 2026 dalam skenario dasar demi menjaga stance netral terhadap lonjakan energi, lalu membalikkan langkah itu pada 2027. Sementara di Inggris, ekonom Bank of England Huw Pill menegaskan bahwa fokus pada inflasi tetap menjadi prioritas utama.
Inilah alasan kenapa konflik Timur Tengah sekarang dianggap sebagai risiko global, bukan regional. Ia tidak hanya menaikkan harga energi, tetapi juga mempersulit keputusan bank sentral dan menekan pertumbuhan. IMF menegaskan kombinasi harga lebih tinggi, perdagangan terganggu, dan ketidakpastian bisa menurunkan pertumbuhan global dan membuat inflasi lebih persisten dari yang sebelumnya diperkirakan.
Sentimen Pasar: Masih Tegang Meski Ada Sinyal Mereda
Ada satu nuansa penting: pasar tidak lagi melihat skenario terburuk sebagai pasti, tetapi juga belum merasa aman. Goldman Sachs mempertahankan proyeksi rata-rata Brent US$83 dan WTI US$78 untuk 2026 dengan asumsi arus minyak dan LNG lewat Hormuz normal kembali pada pertengahan Mei. Namun Reuters menegaskan risiko dua arahnya tetap besar. Selama konflik belum benar-benar reda dan kerusakan infrastruktur belum pulih, premi risiko pada energi dan inflasi masih mungkin bertahan.
Ini menjelaskan kenapa banyak analis dan pembuat kebijakan sekarang memakai bahasa yang lebih hati-hati. Mereka tidak mengatakan inflasi akan lepas kendali, tetapi jelas melihat bahwa jalur menuju inflasi rendah menjadi lebih panjang dan lebih rapuh. Itu sendiri sudah cukup untuk mengubah harga aset, ekspektasi suku bunga, dan keputusan bisnis global.
FAQ
Kenapa konflik Timur Tengah bisa menaikkan inflasi global?
Karena konflik itu mendorong harga minyak dan gas, mengganggu pelayaran, menaikkan asuransi pengiriman, dan akhirnya menambah biaya energi serta logistik di banyak negara.
Apa bukti inflasi global 2026 memang naik lagi?
IMF dalam WEO April 2026 menyebut inflasi global diperkirakan naik lagi pada 2026 sebelum turun kembali pada 2027. Reuters juga melaporkan inflasi zona euro Maret naik ke 2,5% dari 1,9% akibat energi.
Apa dampak paling cepat dari konflik itu ke ekonomi dunia?
Dampak paling cepat datang lewat lonjakan harga energi, gangguan perdagangan, dan perubahan ekspektasi suku bunga serta inflasi.
Apakah inflasi akan terus naik sepanjang 2026?
Belum tentu. Banyak proyeksi masih mengasumsikan penurunan kembali pada 2027, tetapi selama konflik dan gangguan pasokan belum benar-benar reda, tekanan inflasi 2026 tetap tinggi.

