Fastconnect.id – Perang Iran pada 2026 menjadi salah satu guncangan ekonomi terbesar tahun ini karena efeknya tidak berhenti di kawasan Timur Tengah. Konflik tersebut langsung menghantam pasar minyak, jalur pelayaran, biaya logistik, harga pupuk, inflasi pangan, dan prospek pertumbuhan global. IMF menegaskan bahwa momentum ekonomi dunia yang sebelumnya diperkirakan membaik pada 2026 kini tertahan oleh perang di Timur Tengah, terutama karena gangguan di Selat Hormuz dan kerusakan fasilitas energi penting. Dalam skenario acuan IMF, pertumbuhan ekonomi global 2026 turun menjadi 3,1% dengan inflasi headline 4,4%, jauh lebih buruk dibanding lintasan disinflasi yang sebelumnya diharapkan.
Apa Dampak Perang Iran terhadap Pasar Minyak dan Ekonomi Dunia?
Perang Iran pada 2026 mendorong lonjakan harga minyak, mengganggu pasokan energi global, menaikkan inflasi, dan menekan pertumbuhan ekonomi dunia. Jalur pelayaran di Selat Hormuz terganggu, biaya pengiriman dan asuransi naik, harga pupuk serta pangan ikut terdorong, dan banyak negara pengimpor energi menghadapi tekanan kurs, fiskal, serta biaya hidup. IMF, IEA, dan Bank Dunia sama-sama menilai dampaknya bersifat global dan sangat asimetris, dengan negara rentan serta pengimpor energi menjadi pihak yang paling terpukul.
Kenapa Perang Iran Sangat Mengguncang Pasar Minyak?
Jawabannya ada pada Selat Hormuz, salah satu chokepoint energi paling vital di dunia. UNCTAD menyebut selat ini membawa sekitar seperempat perdagangan minyak mentah laut dunia, ditambah volume besar LNG dan pupuk. Ketika konflik mengganggu pelayaran di koridor ini, pasar langsung bereaksi karena risiko pasokan global membesar. IEA kemudian menyatakan bahwa pada Maret 2026, pasokan minyak global anjlok 10,1 juta barel per hari menjadi 97 juta barel per hari, yang mereka sebut sebagai gangguan terbesar dalam sejarah pasar minyak.
Dampaknya terlihat sangat jelas di harga. IEA mencatat harga minyak pada Maret membukukan kenaikan bulanan terbesar sepanjang sejarah, dan pada saat laporan April 2026 ditulis, North Sea Dated crude diperdagangkan di sekitar US$130 per barel, sekitar US$60 lebih tinggi dibanding level sebelum konflik. Namun volatilitasnya juga ekstrem: Reuters melaporkan bahwa setelah kabar jeda konflik dan pembukaan jalur pelayaran sementara, Goldman Sachs tetap mempertahankan proyeksi rata-rata Brent US$83 dan WTI US$78 untuk 2026, meski menekankan risikonya “dua arah” dan sangat bergantung pada normalisasi arus melalui Hormuz.
Pasar Minyak Tidak Hanya Naik, Tapi Juga Jadi Sangat Tidak Stabil
Inilah inti persoalannya. Perang Iran bukan cuma membuat minyak mahal, tetapi juga membuat harga bergerak liar. IMF menjelaskan bahwa shock energi seperti ini adalah negative supply shock klasik: biaya barang dan jasa intensif energi naik, rantai pasok terganggu, inflasi headline terdorong, dan daya beli rumah tangga tergerus. Dalam skenario buruk IMF, bila gangguan energi lebih tajam dan ekspektasi inflasi ikut naik, pertumbuhan global bisa turun ke 2,5% dan inflasi naik ke 5,4%. Dalam skenario lebih parah, pertumbuhan global bisa turun ke 2% pada 2026 dan 2027, sementara inflasi melampaui 6%.
IEA juga melihat efek itu dari sisi konsumsi. Dalam Oil Market Report April 2026, lembaga itu memangkas proyeksi permintaan minyak dunia dan menyatakan permintaan minyak global diperkirakan menyusut 80 ribu barel per hari pada 2026, berbalik dari proyeksi kenaikan bulan sebelumnya. IEA menilai kelangkaan dan harga tinggi sudah memicu demand destruction, pertama kali paling terasa di Timur Tengah dan Asia Pasifik, lalu berpotensi menyebar lebih luas bila gangguan bertahan.
Dampak ke Ekonomi Dunia: Pertumbuhan Turun, Inflasi Naik
IMF kini secara terbuka menilai perang di Timur Tengah telah “menggelapkan” prospek ekonomi global. Sebelum konflik, IMF menyebut proyeksi pertumbuhan dunia untuk 2026 sempat bisa naik menjadi 3,4%. Tetapi setelah perang dan gangguan energi, proyeksi itu diturunkan menjadi 3,1%. Reuters merangkum revisi ini dengan jelas: IMF memangkas outlook 2026 karena harga energi naik dan dunia mulai bergerak mendekati skenario yang lebih buruk jika perang membesar.
Kenaikan harga energi juga membuat bank sentral lebih sulit menurunkan suku bunga. Ketika inflasi didorong oleh minyak, gas, dan logistik, otoritas moneter tidak bisa buru-buru melonggarkan kebijakan. Akibatnya, dunia menghadapi kombinasi yang tidak nyaman: pertumbuhan lebih lemah, tetapi inflasi masih keras kepala. Ini yang membuat pasar keuangan sangat sensitif terhadap setiap perkembangan diplomatik atau militer di kawasan.
Dampak Langsung ke Negara Berkembang dan Pengimpor Energi
Efek paling keras justru banyak dirasakan negara yang tidak terlibat langsung dalam perang. Reuters melaporkan negara-negara seperti Sri Lanka, Mesir, dan Pakistan ikut menanggung tekanan dari harga minyak dan gas yang melonjak, sementara kurs dan biaya impor memburuk. IMF bahkan memberi sinyal kesiapan untuk dukungan darurat puluhan miliar dolar bagi negara yang paling terpukul. Ini menunjukkan perang Iran telah berubah menjadi krisis biaya hidup lintas negara, bukan sekadar isu geopolitik regional.
Contoh paling baru datang dari Bangladesh. Pada 19 April 2026, Reuters melaporkan Bangladesh menaikkan harga BBM eceran 10% hingga 15% karena lonjakan harga minyak global, gangguan rantai pasok, serta biaya freight dan asuransi yang lebih tinggi. Pemerintah Bangladesh menyebut kenaikan itu tidak lagi bisa ditahan, dan Reuters menambahkan dampaknya diperkirakan terasa pada transportasi, pertanian, harga pangan, dan biaya hidup secara keseluruhan. Ini adalah contoh sangat konkret bagaimana perang Iran merambat dari pasar minyak global ke dompet rumah tangga.
Kenapa Harga Pangan Ikut Naik?
Karena energi adalah tulang punggung sistem pangan modern. FAO melaporkan Food Price Index Maret 2026 naik menjadi 128,5 poin, naik 2,4% dari bulan sebelumnya, dengan kenaikan di semua kelompok komoditas. FAO menegaskan kenaikan itu tidak hanya mencerminkan fundamental pasar, tetapi juga respons terhadap harga energi yang lebih tinggi akibat eskalasi konflik di Timur Dekat. Artinya, perang Iran memukul pangan melalui biaya produksi, pendinginan, transportasi, dan pupuk.
UNCTAD menambahkan bahwa gangguan gas, biji-bijian, dan pupuk dari kawasan sekitar Hormuz meningkatkan risiko bagi ketahanan pangan dan perdagangan global. Dalam pembaruan terpisah, UNCTAD juga memperingatkan bahwa perlambatan perdagangan barang dunia pada 2026 dapat memburuk karena tekanan energi, kenaikan harga, dan kondisi finansial yang makin ketat. Jadi, dampaknya bukan hanya “harga minyak naik”, tetapi bisa menjalar menjadi harga pangan naik, perdagangan melambat, dan tekanan fiskal meningkat.
Regulasi dan Respons Kebijakan 2026
Skala krisis ini terlihat dari respons lembaga internasional. IMF, IEA, dan Bank Dunia sampai membentuk kelompok koordinasi untuk memaksimalkan respons terhadap dampak energi dan ekonomi dari perang di Timur Tengah. Dalam pernyataan bersama mereka, ketiga lembaga menegaskan shock ini telah menaikkan harga minyak, gas, dan pupuk, sekaligus memicu kekhawatiran soal ketahanan pangan dan lapangan kerja. Ini penting karena menunjukkan bahwa masalahnya sudah dianggap sistemik, bukan kejadian pasar biasa.
Respons di tingkat negara juga mulai terlihat. Beberapa pemerintah memilih menahan harga domestik lewat subsidi atau relaksasi standar bahan bakar, sementara yang lain mulai membiarkan harga menyesuaikan karena beban fiskal makin berat. Reuters juga mencatat volatilitas energi akibat perang membuat sebagian bank sentral menunda ekspektasi penurunan suku bunga karena risiko inflasi kembali naik. Dengan kata lain, efek perang Iran menjalar dari pasar minyak ke kebijakan fiskal dan moneter.
Sentimen Pasar 24–48 Jam Terakhir
Dalam 24–48 jam terakhir, sentimen pasar bergerak sangat cepat mengikuti kabar dari Hormuz. Reuters melaporkan pasar saham Eropa menguat setelah Iran sempat menyatakan selat itu terbuka selama gencatan senjata, menandakan betapa sensitifnya investor terhadap risiko pasokan energi. Tetapi perkembangan berikutnya tetap menunjukkan ketidakpastian tinggi, sehingga reli pasar belum bisa dibaca sebagai berakhirnya krisis. Inferensi yang paling masuk akal saat ini adalah: pasar sangat ingin percaya situasi membaik, tetapi premi risiko energi masih besar karena gangguan belum benar-benar selesai.
Kesimpulan
Dampak perang Iran terhadap pasar minyak dan ekonomi dunia pada 2026 sangat besar dan berlapis. Di pasar minyak, perang memicu salah satu gangguan pasokan terbesar yang pernah tercatat, membuat harga melonjak dan volatilitas ekstrem. Di ekonomi global, efeknya muncul dalam bentuk pertumbuhan yang dipangkas, inflasi yang naik, suku bunga yang lebih sulit turun, dan tekanan pada negara pengimpor energi. Dampak lanjutannya merembet ke biaya transportasi, harga pangan, perdagangan dunia, dan stabilitas sosial di negara rentan. Selama pasokan energi dan jalur pelayaran belum benar-benar normal, perang Iran akan tetap menjadi salah satu faktor paling menentukan bagi arah minyak dan ekonomi dunia sepanjang 2026.

