Fastconnect.id-Memasuki tahun ajaran 2025/2026, sistem penilaian di sekolah kembali naik level. Aplikasi e-Rapor hadir dengan wajah baru yang lebih komprehensif, salah satunya lewat penambahan menu Kokurikuler. Fitur ini bukan sekadar pelengkap, tapi sudah menjadi komponen wajib yang harus diatur langsung oleh admin sekolah.
Pembaruan ini mengikuti arah kebijakan pendidikan nasional yang dirilis oleh Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan di bawah naungan Kemendikdasmen. Fokusnya jelas, pembelajaran tidak lagi hanya soal nilai akademik, tapi juga bagaimana karakter dan kompetensi siswa dibangun secara utuh melalui kebiasaan dan aktivitas sehari-hari.
Di sinilah kokurikuler mengambil peran penting. Aktivitas ini dirancang untuk memperkuat dan memperkaya pembelajaran intrakurikuler, sekaligus menjadi jembatan antara pengetahuan di kelas dan praktik nyata di lingkungan sekolah.
Konsep Kokurikuler dalam Kurikulum Terbaru
Kokurikuler adalah aktivitas pembelajaran terstruktur yang dilakukan di luar jam pelajaran inti, namun masih terintegrasi dengan tujuan pendidikan sekolah. Mulai dari kegiatan keagamaan, literasi, olahraga, hingga aksi sosial, semuanya masuk dalam ekosistem ini.
Menariknya, kokurikuler terhubung langsung dengan delapan dimensi profil lulusan, yakni keimanan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Artinya, setiap kegiatan yang dicatat di e-Rapor harus punya arah yang jelas terhadap penguatan dimensi tersebut.
Bagi sekolah, ini bukan hal baru. Banyak kegiatan pembiasaan sebenarnya sudah berjalan sejak lama. Bedanya sekarang, semua aktivitas itu perlu terdokumentasi secara sistematis dan terstandar di e-Rapor.
Kenapa Pengisian Kokurikuler Tidak Bisa Sembarangan
Masih banyak guru dan tenaga kependidikan yang mengira pengisian kokurikuler bisa dilakukan seperti ekstrakurikuler biasa. Padahal, secara sistem, menu ini hanya bisa diakses oleh akun admin sekolah.
Kesalahan umum yang sering terjadi adalah kegiatan sudah dibuat, tapi tidak terhubung dengan profil lulusan, atau kelompok sudah dibentuk namun siswa belum didaftarkan. Dampaknya fatal, wali kelas tidak bisa menginput nilai kokurikuler di akhir semester.
Karena itu, pengisian harus dilakukan runtut dan teliti sejak awal.
Cara Mengisi Kokurikuler di e-Rapor
Langkah pertama tentu login menggunakan akun admin sekolah. Pastikan akun yang digunakan memiliki hak akses penuh agar semua menu bisa terbuka tanpa kendala.
Setelah berhasil masuk ke dashboard, admin perlu menuju menu Data Kokurikuler. Di sinilah seluruh pengaturan inti dilakukan. Ada tiga bagian utama yang saling terhubung dan wajib diisi berurutan, yaitu daftar tema, kegiatan kokurikuler, dan kelompok kokurikuler.
Menentukan Tema sebagai Pondasi Kegiatan
Tema menjadi identitas besar dari rangkaian kegiatan kokurikuler. Admin bisa menyesuaikan nama tema dengan karakteristik dan budaya sekolah. Misalnya tema karakter dan spiritualitas untuk kegiatan keagamaan, kesehatan dan kebersihan untuk olahraga rutin, atau literasi dan akademik untuk program membaca.
Setiap tema harus diatur dengan status aktif agar bisa digunakan pada tahap berikutnya. Tidak ada batasan jumlah tema, selama relevan dan dibutuhkan sekolah.
Menginput Kegiatan Kokurikuler Secara Detail
Setelah tema siap, langkah selanjutnya adalah menambahkan kegiatan. Admin memilih tema yang sudah dibuat, lalu menentukan fase pembelajaran sesuai jenjang kelas. Fase ini penting karena akan menentukan kelompok siswa yang terlibat.
Setiap kegiatan diisi dengan nomor urut, nama kegiatan, dan tujuan akhir. Bagian tujuan akhir tidak boleh asal. Idealnya ditulis dalam kalimat lengkap yang menjelaskan manfaat kegiatan terhadap pembentukan karakter siswa.
Sebagai contoh, kegiatan sholat berjamaah bisa diarahkan untuk membangun kedisiplinan, kebersamaan, dan budaya religius sekolah. Semakin jelas tujuannya, semakin mudah wali kelas menyusun deskripsi rapor nantinya.
Mengaitkan Kegiatan dengan Profil Lulusan
Inilah bagian krusial yang sering terlewat. Setiap kegiatan harus dihubungkan dengan dimensi profil lulusan yang relevan. Admin cukup memilih dimensi yang sesuai melalui menu pengaturan di masing-masing kegiatan.
Tanpa proses ini, kegiatan hanya akan menjadi daftar aktivitas tanpa arah pembelajaran yang terukur.
Membentuk Kelompok Kokurikuler yang Efektif
Kelompok kokurikuler berfungsi sebagai wadah pelaksanaan kegiatan. Admin perlu menentukan tingkat kelas, fase pembelajaran, serta koordinator kelompok yang biasanya diisi oleh wali kelas atau guru piket.
Setelah kelompok terbentuk, admin bisa memilih kegiatan apa saja yang diikuti kelompok tersebut. Fleksibilitas ini memungkinkan satu kelompok mengikuti lebih dari satu kegiatan kokurikuler.
Mendaftarkan Siswa, Langkah Kecil yang Berdampak Besar
Tahap terakhir yang tidak boleh dilewatkan adalah pendaftaran anggota kelompok. Semua siswa yang mengikuti kegiatan harus dimasukkan ke dalam kelompok dengan kategori reguler.
Jika siswa belum terdaftar, maka menu penilaian kokurikuler tidak akan muncul di akun wali kelas. Ini sering menjadi sumber kebingungan di akhir semester, padahal solusinya sederhana.
Cek Akhir Lewat Akun Wali Kelas
Sebagai validasi, admin disarankan login menggunakan akun wali kelas untuk memastikan menu nilai kokurikuler sudah aktif. Jika sudah muncul, berarti seluruh proses pengisian berjalan sukses dan siap masuk tahap penilaian.
Merangkai Deskripsi Kokurikuler di Rapor Siswa
Setelah pengaturan teknis selesai, tugas berpindah ke wali kelas. Mereka akan menyusun deskripsi pencapaian siswa berdasarkan partisipasi dan perkembangan di kegiatan kokurikuler.
Deskripsi ditulis naratif, menggambarkan capaian siswa pada dimensi profil lulusan tertentu. Misalnya pada tema kesehatan, wali kelas bisa menyoroti kebugaran fisik, kemandirian, dan kemampuan mengambil keputusan sehat.
Untuk tema anti-perundungan, fokus bisa diarahkan pada kepedulian sosial, kerja sama, dan sikap toleransi. Sementara pada tema lingkungan atau budaya lokal, penalaran kritis, kreativitas, dan kebanggaan terhadap identitas daerah menjadi poin utama.
Penulisan deskripsi yang baik tidak hanya memuji, tetapi juga memberi catatan pengembangan secara konstruktif.
Kokurikuler Bukan Beban, Tapi Kesempatan
Jika dikelola dengan benar, menu kokurikuler di e-Rapor justru memudahkan sekolah menampilkan wajah pendidikan yang lebih manusiawi. Aktivitas yang dulu dianggap rutinitas kini punya makna dan nilai yang tercatat resmi.
Bagi admin sekolah, memahami alur ini sejak awal akan menghemat banyak waktu dan menghindari drama menjelang pembagian rapor. Sementara bagi guru dan wali kelas, kokurikuler menjadi ruang baru untuk mengenal siswa lebih dekat, bukan hanya dari angka, tapi dari proses tumbuh kembangnya.

